Semakin Pintar, Semakin Mempesona
Semakin lihai .. Semakin memuakkan !
Slogan ini saya dengar ketika tak sengaja memirsa acara Pesona Matematika di TVRI, suatu tayangan edukatif bagi anak muda untuk menyukai Matematika. Sebuah ujaran manis karena kepintaran memang selalu mengagumkan.
Kalau memakai analogi plesetan gaya Jogja, slogan ini bisa mendapatkan banyak kembangan. Salah satu kembangan slogan yang membuat saya termenung .. dan mungkin terpengaruh dengan keributan babak akhir pansus Century adalah seperti ini: semakin pintar semakin mempesona, semakin lihai semakin memuakkan !
Untuk kepentingan pendidikan, matematika yang abstrak bisa dijelaskan hingga mudah dimengerti pada tayangan acara TVRI itu. Mungkin kurang lebih seperti inilah fungsi yang dijalankan oleh media kita saat ini, masyarakat kian mampu melihat persoalan dan menakar dengan nalar kasus Century. Tak perlu jadi seorang sosiolog untuk mengatakan bahwa rakyat kita adalah masyarakat yang belajar. The Learning Society.
Banyak soal dalam kehidupan moderen kita saat ini, memiliki watak seperti sistem black box (kotak hitam, tapi bukan di teknologi penerbangan). Artinya, sistem yang kita ketahui masukan dan keluaran-nya, namun prosesnya sama sekali tak bisa dipahami. Sejauh hasil sesuai, bukanlah ini memadai? Kita jarang tahu kandungan kimiawi obat sakit kepala, dan bagaimana proses pusing dihilangkan. Yang kita ingat, kalau pil ini ditelan, nyeri dan pening akan hilang. Sama juga dengan sederet mantra penglaris, pengasihan, santet dan aksi paranormal lainnya. Entah bagaimana prosesnya, asal air putih termantrai diminum, kesurupan hilang. Susuk emas dipasang, pesona pun bertebaran datang.
Kasus Century bagi kita yang jauh dari Jakarta, bagaikan sistem kotak hitam. Entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu ada dana keluar. Mengalir raib kemana lagi, juga tak mudah ditelusuri. Bagai demit terbirit karena hadirnya Mbak dukun komat-kamit. Karena soal ini berurusan dengan dana warga, maka lebih sopan untuk dikatakan … semakin lihai, semakin memuakkan.
Meski demikian, saya berharap suatu saat nanti .. seperti halnya teori-teori Matematika yang rumit bisa diterangkan secara sederhana dan mudah dipahami, sedemikian pulalah soal Kasus Bank Century ini. Menjadi menarik petuah para sesepuh saya dulu : Becik ketitik olo ketoro (pada waktunya kebenaran akan terungkap).
Yuk sama-sama kita saksikan salah satu babak keributan ini diakhiri.
Ah .. mending mengingat seorang sahabat yang tegar sendiri di Jogja utara sana, untuk Dia pantaslah ujaran: semakin pintar … memang mempesona.



